Wah, sepertinya corat-coret saya akhir-akhir ini selalu tentang virus. Kali ini corat-coret saya tentang bagaimana membuat anti virus yang tidak sekedar mendeteksi suatu file itu terinfeksi virus atau tidak, tetapi juga bagaimana supaya file tersebut bisa kita kembalikan datanya.
Di sini saya akan menjelaskan bagaimana proses yang harus dilakukan. Saya hampir sering sekali membuat sebuah anti virus ketika banyak software antivirus yang terkenal tidak bisa mendeteksi virus tersebut atau ketika antivirus tersebut setelah mendeteksi adanya virus langsung main hakim sendiri alias menghapus file yang terinfeksi tanpa ampun.
Ibarat kalau seorang doktor menemukan pasiennya terkena penyakit menular, langsung saja dibunuh biar tidak menulari yang lain.
Ini saya yang paling sedih.
Biasanya ketika saya menemukan tanda-tanda adanya virus yang berjalan di sebuah komputer, dan si antivirus sama sekali tidak bisa mendeteksinya, maka saya akan melakukan beberapa proses di bawah ini:
Saya akan menjebak virus tersebut ke dalam sebuah file buatan saya sendiri.
Setelah terjebak, virus tersebut akan saya teliti, bagaimana bentuknya, bagaimana cara kerjanya serta bagaimana cara dia menyembunyikan data. Semuanya dilakukan si virus tentu dengan menggunakan algoritma tertentu.
Yang terakhir buat antivirusnya dengan sekaligus merestore data yang terinfeksi si virus tersebut. Percuma dong kalau sekedar menghapus file yang terinfeksi. Mending ga usah buat antivirusnya.
Tiga langkah tersebut pasti saya lakukan dalam menangani virus yang aneh.
Pada proses pertama, tujuannya adalah membantu proses ke dua. Sebuah file yang terinfeksi virus tentu akan mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi pada file tersebut itu lah yang kemudian akan saya catat dan anlisa di mana saja perubahannya. Setelah ketemu, saya kemudian mencari bagaimana si virus tersebut menyembunyikan data. Yang paling susah ketika si virus menyembunyikan data dengan mengenkripsinya, tentu saja harus berfikir berkali-kali untuk menentukan lokasi data aslinya dan bagaimana rumus enkripsi si virus tersebut.
Ini pernah saya alami ketika saya waktu SMA sekitar tahun 1995-an menemukan sebuah virus yang ketika menginfeksi file Aplikasi, si virus ini juga mengenkripsi file aslinya, namun akhirnya bisa juga membuat antivirusnya.
Ketika seluruh data yang diharapkan sudah didapat, langkah berikutnya saya membuat antivirusnya. Biasanya saya menggunakan low level programming untuk membuat antivirusnya dengan tujuan lebih cepat proses pembersihannya.
Ketika tubuh si virus sudah teridentifikasi tentu denga beberapa inisial termasuk ukuran si virus, tidaklah sulit membuat program untuk mendeteksi apakah sebuah file terinfeksi si virus tersebut atau tidak. Ketika rumus enkripsinya juga ditemukan, tidak sulit juga untuk merestore data yang disembunyikan si virus tadi, tinggal sepandai-pandainya Anda dalam ilmu matematika. Masih ingat dengan fungsi invers?
Sabtu, 13 September 2008
Membuat Anti Virus Tanpa Menghilangkan Data Yang Terinfeksi
Diposting oleh Donifa K. Cahyadi, s.kom di 9/13/2008 01:54:00 AM 0 komentar
Mematikan Autorun Windows
Kita sering kali jengkel dengan ulah virus yang dengan mudahnya menyebar melalui pertukaran data lewat Flash Disk. Kebanyakan virus-virus lokal memanfaatkan fungsi yang ada pada Windows untuk menyebarkan diri, dalam kasus ini melalui Flash Disk atau pun CD/DVD ROM, yaitu melalui fungsi Autorun.
Bagaimana solusinya? Pemecahan yang paling sederhana adalah dengan mematikan fungsi dari Autorun. Sayangnya, Windows XP tidak menyediakan cara mudah yang benar-benar dapat mematikan fungsi autorun pada Windows XP.
Berikut adalah langkah-langkah untuk mematikan fungsi Autorun pada Windows tanpa menggunakan software tambahan.
(1) Klik pada menu Start, lalu pilih Run
(2) Ketikkan “regedit” (tanpa tanda kutip), lalu tekan tombol [Enter]. Akan terbuka jendela Registry Editor
(3) Masuklah ke dalam“HKEY_CURRENT_USER\Software\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\explorer”
(4) Pada panel sebelah kanan, buat DWORD value baru dengan cara klik kanan daerah yang kosong, pilih New lalu pilih DWORD value (bila ternyata DWORD “NoDriveTypeAutoRun” sudah ada, klik dua kali DWORD tersebut dan ikuti langkah 6)
(5) Beri nama DWORD value dengan “NoDriveTypeAutoRun”
(6) Selanjutnya klik dua kali DWORD value yang baru saja dibuat, dan pada Value data isikan dengan karakter “b5″, sebelumnya beri tanda cek pada Hexadecimal. Klik OK. Tutup Registry Editor
(7) Sekarang coba tancapakan Flash Disk ke port USB Anda, maka tidak akan terjadi apa-apa, tidak ada lagi boks pertanyaan yang membosankan dari Windows. Bila efek belum terjadi, cobalah Restart komputer Anda terlebih dahulu
Lalu bagaimana dengan Windows Vista? Ternyata Vista telah memiliki integritas Control Panel yang cukup baik dari pada XP. Anda dapat mematikan fungsi Autorun di Vista melalui Control Panel. Ketikkan saja “autorun” pada bar pencarian yang ada di kanan atas jendela Control Panel. Cari dan klik pada hasil pencarian yang memiliki kata “disable Autorun”, pada jendela berikutnya, hilangkan centang pada “Enable Autorun”.
Label: Trik-trik XP
Diposting oleh Donifa K. Cahyadi, s.kom di 9/13/2008 01:52:00 AM 0 komentar
Flash Disk di kasih Password & Cegah Virus Juga...
Diposting oleh Donifa K. Cahyadi, s.kom di 9/13/2008 01:09:00 AM 0 komentar
Delegasi Muslim Luruskan Persepsi Tentang Kehidupan Muslim di Inggris
Kunjungan itu merupakan bagian dari program Projecting British Islam (PBI) yang disponsori oleh Foreign and Commonwealth Office (FCO). Delegasi Muslim Inggris yang ikut dalam program itu antara lain penulis Ed Hussein, dosen Universitas Middlesex dan imam Masjid Tawhid London Usama Hassan serta editor majalah Islam Q-News Abdul Rahman.
Sejak program ini berjalan tahun 2005 lalu, 70 delegasi Muslim Inggris melakukan kunjungan ke hampir 26 negara di Timur Tengah, Asia dan Afrika. Para delegasi menegaskan, mereka bicara atas nama mereka dan komunitas mereka sendiri, bukan atas nama pemerintah Inggris meski program itu disponsori oleh FCO.
"Kunjungan ini sebagai upaya untuk membantu dunia Islam untuk mengetahui apa yang terjadi pada warga Muslim Inggris. Ini penting, karena banyak peristiwa yang dialami oleh warga Muslim di Inggris. Apalagi saat ini kami, warga Muslim dan Islam sedang menjadi perdebatan di Barat, " kata Aftab Malik, satu dari tujuh orang delegasi PBI.
Delegasi lainnya Abdul Rahman mengatakan, "Sangat penting untuk menginformasikan tentang Islam di Inggris dan kehidupan warga Muslim di negeri itu."
Abdul Rahman yang besar di Kanada dan telah mengunjungi banyak negara mengatakan, Muslim di Inggris memiliki kebebasan penuh untuk menjalankan ibadah dan perintah agamanya dan punya ruang untuk mengekspresikan intelektualitasnya.
"Sebagai seorang Muslim di Inggris, yang dinilai adalah seberapa besar Anda memberikan kontribusi pada masyarakat. Selain itu, saya tidak mengatakan ini sebagai toleransi, tapi rasa hormat dan inilah yang dipahami warga Muslim pada umumnya... setiap orang cenderung bersikap jujur dan tulus, " papar Abdul Rahman.
Lebih lanjut ia mengatakan, "Saya tidak mengatakan bahwa kehidupan di Inggris itu ibarat surga, karena saya pikir hidup itu tidak seperti surga bahkan bagi warga Muslim yang tinggal di negara-negara Muslim. Saya hanya ingin mengatakan bahwa banyak keuntungan hidup di Inggris."
Aftab sependapat dengan Abdul Rahman. Menurutnya, dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan selama delegasi itu berkunjung ke Mesir terbukti masih banyak orang yang memiliki asumsi yang salah. Misalnya, kata Aftab, ada yang bertanya "apakah anda dibiarkan menjadi seorang Muslim sejati di Inggris?" Aftab menanyakan apa yang dimaksud dengan Muslim sejati, lalu si penanya menjawab "contohnya melaksanakan salat dan puasa..."
"Saya katakan bahwa kami bisa melakukan itu semua... dan si penanya terlihat terkesima. Cukup mengejutkan, bahwa persepsi-persepsi semacam itu bisa diubah hanya dengan diskusi, " ujar Aftab.
Meski demikian, delegasi Muslim itu mengakui banyak tantangan yang harus dihadapi komunitas Muslim di Inggris. Mulai dari persepsi dan pemahaman yang salah tentang Islam, kondisi sosial ekonomi, tingkat pendidikan dan peran komunitas Muslim di tengah masyarakat. Tantangan makin berat pascaledakan bom di London tanggal 7 Juli tahun 2005 lalu.
Namun Aftab menyatakan warga Muslim tetap optimis mereka dapat mengatasi semua tantangan itu, karena biar bagaimanapun warga Muslim adalah bagian dari masyarakat Inggris. (ln/iol)
Diposting oleh Donifa K. Cahyadi, s.kom di 9/13/2008 12:53:00 AM 1 komentar
.jpg)
